Senin, 24 Januari 2011

TEKNOLOGI TEH


Pengertian Teh
Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.
Istilah “teh” juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal.
Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.
Bahkan di Jepang dikenal adanya upacara minum teh. Rangkaian upacara ini diawali dengan pembersihan teko penyajian, memasak air, menuang teh hijau ke dalam teko tadi, menuang air panas ke dalamnya, mengaduknya sampai rata dan berbuih, serta kemudian menyajikannya pada tamu dengan tata cara khas Jepang. Mesti upacara ini kelihatannya sederhana, tapi ada suatu getaran ritual dilibatkan, yang membuat upacara minum teh ini suatu seni yang bertahan berabad-abad hingga sekarang.
Selain nilai-nilai kultural dan ritual tadi, teh hijau banyak memberi manfaat buat kesehatan :
  • Menghambat pembentukan kanker. 
  • Mencegah penyakit jantung dan stroke.
  • Menstimulir sistem sirkulasi, memperkuat pembuluh darah, dan menurunkan kolesterol dalam darah.
  • Meningkatkan jumlah sel darah putih yang bertanggung jawab melawan infeksi. 
  • Mencegah serangan influenza. 
  • Menurunkan stress
  • Dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan makanan dan penyakit macam kolera, tipes dan desentri. Di dalam buku Shennong Bencao, Sennong mencatat 72 jenis tanaman beracun yang dapat dinetralisir oleh teh.
  • Teh dapat menurunkan angka serangan diare. 
  • Membantu menghambat infeksi tenggorokan. 
  • Memperbaiki konsentrasi, ketajaman perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.
  • Bisa pula digunakan sebagai obat luar untuk beberapa penyakit. Di Cina, umpamanya, teh hijau digunakan sebagai obat rumah untuk menyembuhkan luka atau mencegah penyakit kulit dan penyakit kaki karena kutu air.
  • Sebagai bahan-bahan kosmetik. Di antaranya, untuk lotioncream antiseptik; produk-produk perawatan rambut macam shampo atau conditioner; perawatan mulut seperti pasta gigi,mouthwash, dan pelindung bibir; deodoran; produk pembersih macam sabun atau pembersih kulit; perawatan tubuh seperti hand & body lotion; perawatan kaki; dan produk-produk pelindung tubuh dari sengatan matahari atau yang diperlukan selama perjalanan.
·         Memperkuat gigi, juga baik untuk melawan osteoporosis.
·         Membantu menurunkan resiko penyakit mental ketika seseorang beranjak tua.

Beragam manfaat teh tadi tentu tak lepas dari keberadaan senyawa-senyawa dan sifat-sifat yang ada pada daun teh. Setidaknya terdapat 450 senyawa organik dan lebih dari satu senyawa anorganik bisa ditemukan dalam daun teh. Menurut Tea Board India, dalam secangkir teh terkandung energi sekitar 4 kkal, di samping flour, mangan, vitamin B kompleks, asam nikotinat, dan asam pantotenat.
Hasil penelitian membuktikan teh mengandung senyawa utama yang disebut polyphenol, sejumlah vitamin (niacin atau vitamin B kompleks seperti vitamin B1 dan B2; serta vitamin C, E, dan K), dan mineral (a.l. mangan, potasium, dan fluor). Kandungan vitamin B2 teh kira-kira 10 kali lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat pada sereal dan sayuran. Vitamin C-nya pun lebih tinggi dari buah apel, tomat, atau jeruk. Dengan kata lain, dua cangkir teh hijau memiliki vitamin C sama banyaknya dengan segelas besar jus jeruk.
Di dalam teh juga terkandung kafein. Pada teh hijau juga ditemukan adanya catechinr-amino butyric acid, flavonoid, polisakarida, dan fluoride. Tak ketinggalan, minyak esensial yang memberi teh aroma khas dan keharuman.
Teh hijau (ryokucha) adalah teh yang sangat umum di Jepang sehingga bila disebut "teh" (ocha) maka kemungkinan besar yang dimaksudkan adalah teh hijau, dan baru disebut sebagai teh Jepang (nihoncha) kalau memang tersedia pilihan teh yang lain. Teh biasanya dijual dengan harga yang bergantung pada kualitas dan bagian dari tanaman yang dibuat teh.

Pengolahan spesifik jenis

Teh secara tradisional dikelompokkan berdasarkan derajat periode "fermentasi" daun:[1]

Teh putih

Pucuk daun muda (kuntum daun yang baru tumbuh) tidaklah dioksidasi; pucuk-pucuk ini dihindarkan dari sinar matahari demi mencegah pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi hanya sedikit dibandingkan jenis teh lain, dan akibatnya menjadi lebih mahal dibandingkan teh yang diambil dari yang sama dengan proses yang berbeda. Teh ini jarang ditemui di luarCina, meskipun di dunia barat mulai menyukai teh organik dan bermutu prima.

Teh hijau

Proses oksidasi dihentikan setelah sedikit oksidasi dengan penerapan panasa, apakah itu dengan pengukusan, atau dengan penggongsengan, metode tradisional Cina. Daun teh dapat dikeringkan sebagai daun terpisah atau digulungkan membentuk pelet kecil untuk menghasilkan Teh bubuk. Proses ini memakan waktu dan biasanya dilakukan pekoe untuk mutu terbaik. Teh diolah sehari atau dua hari setelah panen.

Jenis-jenis teh hijau yang umum:
Teh terpilih dari daun teh kelas atas yang disebut Tencha. Teh dinamakan Gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai aroma yang sangat harum.
Teh hijau berkualitas tinggi yang digiling menjadi bubuk teh dan dipakai untuk upacara minum teh. Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan sebagai perasa untuk es krimrasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional Jepang (wagashi), berbagai permen dan coklat.
Teh hijau yang biasa diminum sehari-hari, dibuat dari daun yang dibiarkan terpapar sinar matahari.
Teh jenis bancha dengan campuran butiran beras yang belum disosoh (genmai) yang dibuat menjadi berondong. Teh mempunyai aroma wangi butiran beras yang setengah gosong.
Teh jenis sencha yang daunnya dilindungi untuk beberapa lama dari terpaan sinar matahari sebelum dipanen. Aroma teh kabusecha sedikit lebih lembut dibandingkan dengan tehsencha.
Teh kasar yang dibuat dari panenan yang kedua kali antara musim panas dan musim gugur. Daun teh untuk teh bancha biasanya lebih besar dari daun teh sencha dan aromanya tidak begitu harum.
Teh yang digongseng di atas penggorengan atau di dalam oven.

Teh berkualitas rendah dari daun teh bercampur tangkai daun teh.

Proses Produksi Teh Hijau

1. Proses Pelayuan
  • Setelah penerimaan pucuk dari kebun, daun teh ditebar & diaduk-aduk untuk mengurangi kandungan air yang terbawa pada daun.
  • Setelah itu daun teh dilayukan dengan melewatkan daun tersebut pada silinder panas ± sekitar 5 menit (sistim panning) atau dilewatkan beberapa saat pada uap panas bertekanan tinggi (sistim steaming), proses pelayuan ini bertujuan untuk mematikan aktivitas enzim sehingga akan menghambat timbulnya proses fermentasi.
  • Menurunkan kadar air menjadi sekitar 60 - 70 %.
2. Proses Pendinginan
  • Bertujuan untuk mendinginkan daun setelah melalui proses pelayuan. 
3. Proses Penggulungan daun
  • Menggunakan mesin Jackson, bertujuan untuk memecah sel-sel daun sehingga teh yangdihasilkan akan mempunyai rasa yang lebih sepet.
  • Proses ini hampir sama dengan proses penggilingan pada proses pembuatan teh hitam, tetapi untuk proses pembuatan teh hijau daun yang dihasilkan sedapat mungkin tidak remuk / hanya tergulung, dan mempunyai rasa yang lebih sepet. 
  • Proses penggulungan berkisar antara 15 - 30 menit.


4. Proses Pengeringan
  • Proses pengeringan yang pertama dilakukan adalah dengan menggunakan ECP drier,kemudian setelah itu langsung dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan rotary drier.
  • Proses pengeringan pertama akan menurunkan kadar air menjadi 30 - 35 %, dan akanmemperpekat cairan sel. Proses ini dlakukan pada suhu sekitar 110° - 135° C selama ± 30 menit.
  • Proses pengeringan kedua akan memperbaiki bentuk gulungan daun, suhu yang dipergunakan berkisar antara 70° - 95° C dengan waktu sekitar 60 - 90 menit.
  • Produk teh hijau yang dihasilkan mempunyai kadar air 4 - 6 %.
5. Proses sortasi
  • Proses ini bertujuan untuk mendapatkan teh hijau dengan berbagai kualitas mutu :
a. Peko (daun pucuk).
b. Jikeng (daun bawah / tua).
c. bubuk / kempring (remukan daun).
d. tulang

Teh oolong (Wulong)

Oksidasi dihentikan pada waktu standar teh hijau dan teh hitam. Proses oksidasi memerlukan waktu dua atau tiga hari. Di dalam bahasa Cina, teh semi-oksidasi digolongkan sebagaiteh biru (青茶, harfiahnya: teh biru-hijau), sedangkan istilah "oolong" digunakan secara khusus sebagai nama untuk teh semi-oksidasi tertentu.[2]

Teh hitam/teh merah

Daun teh hijau dimungkinkan untuk dioksidasi sempurna. Teh hitam adalah bentuk yang paling lazim di Asia Selatan dan Asia Tenggara dan pada abad lalu di banyak negara Afrikamisalnya Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi, dan Zimbabwe. Terjemahan harfiah dari istilah Cina adalah teh merah, yang digunakan oleh beberapa pecinta teh. Orang Cina menyebutnyateh merah karena larutan teh yang dihasilkan dari teh ini akan berwarna merah. Orang Barat menyebutnya teh hitam karena daun teh yang digunakan untuk penyeduhan biasanya berwarna hitam. Namun, teh merah juga disebut rooibos, yaitu teh herbal Afrika Selatan yang semakin merakyat. Proses oksidasi akan mengambil waktu enam pekan. Teh hitam kemudian digolongkan sebagai ortodoks atau sebagai CTC (Crush, Tear, Curl) (Remas, Peras, Keriting); sebuah metode produksi yang dikembangkan pada tahun 1930-an. Teh hitam yang tidak dikocok juga dikenali berdasarkan tempat dari mana mereka berasal, tahun panen dan pemetikan (pertama, kedua, atau musim gugur). Teh hitam proses ortodoks kemudian dikelas-kelaskan menurut mutu daun pascaproduksi oleh sistem Orange pekoe, sedangkan teh CTC menggunakan sistem klasifikasi berbeda.

Teh sekunder

Teh yang diberi perlakuan oksidasi kedua, seperti teh pu-erh, teh liu'an, dan teh liubao, semuanya disebut teh sekunder atau teh pascafermentasi. Di dalam bahasa Cina mereka dikelompokkan sebagai Teh gelap atau teh hitam. Ini tidak boleh dikaburkan dengan istilah Indonesia teh hitam, yang di dalam bahasa Cina disebut teh merah. Pu-erh, juga disebut Póu léi (Polee) di dalam bahasa Kanton adalah jenis teh sekunder yang paling lazim di pasaran.

Teh kuning

Proses pengolahannya sama seperti teh hijau, dan teh yang bermutu tinggi ini pertama disajikan pada masa Imperium Tiongkok.

Kukicha

Juga disebut teh musim dingin, kukicha terbuat dari twig dan daun tua dipetik dari tanaman teh pada masa istirahatnya dan dipanggang di atas api. Kukicha merakyat sebagai makanan kesehatan di Jepang dan termasuk dalam menu diet makrobiotik.

Proses Pembuatan Teh Hitam

Meminum teh di pagi hari mungkin menjadi kebiasaan kita, untuk lebih mengenal proses pembuatan teh sampai ketangan kita berikut prosesnya. Proses pembuatan yang akan dibahas yaitu proses pembuatan teh hijau dan teh hitam.

Prosesi pembuatan teh Organik
1. Proses Penanaman Teh (Tea Plantation)
Tanaman teh merupakan tumbuhan berdaun hijau yang termasuk dalam keluarga Tumbuhan Camellia yang berasal dari Cina, Tibet dan India bagian Utara. Tanaman teh terutama tumbuh di daerah tropis dan memerlukan curah hujan hingga 1000-1250 mm per tahun, dengan temperatur ideal antara 10 hingga 20 °C. Pohon teh mampu menghasilkan teh yang bagus selama 50 – 70 tahun.


2. Pemanenan Daun Teh (Plucking)
Pemetikan dilakukan tergantung pada cuaca; tumbuhan baru dapat dipetik dengan interval 7 – 12 hari selama musim pertumbuhan. Pemanenan teh membutuhkan banyak tenaga dan tenaga kerja intesif . Teh yang benar-benar baik umumnya berasal dari pucuk daun atau daun teh muda yang belum mekar.

Untuk menghasilkan 1 pound (0,45 kg) teh berkualitas paling baik, diperlukan lebih dari 80.000 petikan.

Tahap-tahap pengolahan teh organic memiliki banyak kesamaan dengan teh konvensional. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1.       Pemetikan.
Pemetikan dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau dengan alat (gunting petik/mesin petik). Pelabelan dimulai dari sini dengan memberikan ciri tersendiri pada pemetik, misalnya warna topi yang berbeda. Pemetikan dilakukan tergantung pada cuaca; tumbuhan baru dapat dipetik dengan interval 7 – 12 hari selama musim pertumbuhan. Pemanenan teh membutuhkan banyak tenaga dan tenaga kerja intensif . Teh yang benar-benar baik umumnya berasal dari pucuk daun atau daun teh muda yang belum mekar.

Untuk menghasilkan 1 pound (0,45 kg) teh berkualitas paling baik, diperlukan lebih dari 80.000 petikan.
Pemetik teh, belajar mengenali dengan tepat pucuk daun mana yang harus dipetik. Hal ini penting, untuk memastikan kelunakan daun yang dipetik menghasilkan teh yang terbaik.
Setelah pemetikan, daun teh dibawa ke pabrik untuk diproses lebih lanjut. Lokasi perkebunan teh pada umumnya berdekatan dengan pabriknya.




2.     Wadah dan pengangkutan.
Wadah pucuk (waring) dibuat berbeda dengan waring pucuk yang lain atau diberi label ORGANIK. Label memuat lokasi pemetikan, mandor petik, dan waktu atau hari pemetikan. Truk pengangkut juga dipisahkan.
3.     Pelayuan.

Tempat pelayuan di pabrik juga dipisahkan serta diberi label ORGANIK pada setiap withewring trough (WT). Label memuat lokasi pemetikan dan pemetik berikut mandornya. Daun teh segar yang telah dipetik harus melalui tahap pelayuan. Pada tahap ini, daun teh dilayukan dengan melakukan pemanasan agar kadar air yang terkandung berkurang 65-70 persen. Pemanasan dilakukan dengan mengalirkan udara panas (bisa juga dijemur). Hal ini dilakukan agar daun teh dapat digiling dengan baik.
Open top roller (OTR)/ Penggilingan

Selanjutnya, daun teh yang telah dilayukan masuk pada tahap penggilingan. Pada tahap ini, daun teh digiling untuk memecah sel-sel daun. Pemecahan daun teh disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Daun teh ada yang digiling kasar dan ada yang digiling sampai menjadi serbuk. Penggilingan pada OTR juga harus dipisahkan. Kalau OTR lebih dari satu, penggilingan teh organic dikerjakan pada OTR tersendiri dan diberi label ORGANIK.


5.     Rotorvane.
Apabila hanya terdapat satu rotorvane, pastikan bersih dari sisa-sisa the nonorganik sebelumnya dan diberi label ORGANIK.
6.     Press cup roller (PCR).
Penggilingan pada PCR juga dipisahkan dan tetap harus diberi label ORGANIK.
7.     Ayakan.
 Penggunaan ayakan juga dipisahkan berdasarkan waktu pengayakan. Penggilingan teh organik harus didahulukan dan pastikan bahwa sebelum ayakan digunakan sudah tidak ada sisa-sisa teh dari penggilingan sebelumnya, dan tentu diberi label ORGANIK.


8.     Oksidasi.
Pelaksanaan oksidasi enzimatis dipisahkan dan diberi label ORGANIK. Daun teh yang telah digiling disimpan pada tempat atau ruangan khusus yang bersih dan bebas bau. Pada tahap ini, daun teh dibiarkan mengalami oksidasi. Enzim dalam teh akan bekerja dan membentuk warna, rasa, dan aroma teh.








9.     Pengeringan.
Pengeringan teh organik dilakukan terlebih dahulu sebelum teh nonorganik. Pastikan bahwa sebelum mesin pengering digunakan sudah tidak ada sisa-sisa teh nonorganic dan diberi label ORGANIK. Daun teh selanjutnya dikeringkan. Pengeringan daun teh menggunakan mesin agar suhu yang dihasilkan stabil dan menghasilkan kualitas teh yang baik. Daun teh dikeringkan oleh mesin pengering dengan suhu sekitar 49°C kurang lebih selama 20 menit sampai kadar air dalam daun teh mencapai 2-3 persen.











10.Sortasi.
Pada saat sortasi kering, teh organik didahulukan dan diberi label ORGANIK. Selanjutnya, teh yang telah dikeringkan dikemas. Sebelum dikemas, dilakukan penyortiran teh, agar dapat dikemas sesuai permintaan pasar.
(Ada yang dikemas dijadikan Teh Celup, Teh Saring, Teh Seduh, dll)
11.Peti miring.
Bila belum ada peti miring yang terpisah, penyimpanan dapat menggunakan karung plastik ganda yang dapat menyimpan teh kering dengan baik. Karung yang telah diisi cukup kemudian dimasukkan ke dalam paper sack.
12.Pengepakan
Pengepakan dilakukan sebagaimana  pengepakan teh nonorganik. Pada packing-nya diberi tambahan keterangan produk teh yang diisikan; apakah dari teh konversi atau sudah teh organik. Bila telah mendapatkan sertifikat dari Skal, maka label organik dicantumkan pada
packing dengan lambang yang sifatnya internasional. Skal memberikan logo produk organik

dengan tulisan ECO berwarna putih pada bujur sangkar dengan dasar warna hitam. Semua produk yang mencantumkan logo tersebut dijamin telah dibudidayakan secara organic dan pengolahannya tidak menggunakan bahan tambahan dari bahan-bahan kimia.


v  Proses Pengolahan Teh Organik
Pada prinsipnya, pengolahan teh organik tidak berbeda dengan pengolahan teh non-organik. Sebelum memulai pengolahan teh organik, semua mesin atau peralatan ada sisa teh dari pengolahan sebelumnya. Dalam proses pengolahan teh ada beberapa tahapan dalam mengolah teh supaya menghasilkan kulaitas yang baik. Dan salah satu perusahaan yang sudah mulai menggunakan pengolahan the organic adalah PT Perkebunan Nusantara dengan produknya yakni Teh Walini Organik. Proses pengolahan atau pembuatan the Walini Organik ini hamper sama dengan prosesi pembuatan teh pada umumnya, yakni teknologi Orthodox. Akan tetapi sekarang sudah menggunakan teknologi baru yakni CTC (Crush, Tear & Curl).nah disini kami akan menjelaskan secara singkat akan teknologi pembuatan teh walini dengan menggunak teknologi Orthodox dan CTC.





Teknologi CTC (Crush, Tear & Curl) dan Orthodox
CTC (Crush, Tear & Curl)
CTC adalah singkatan dari (crushing, tearing and curling ) penghancuran, penyobekan, dan penggulungan. Daun yang telah dilayukan seringkali dipotong hingga berukuran seragam dengan menggunakan mesin. Selanjutnya daun ditempatkan dalam mesin CTC dimana mereka dihancurkan, dikoyak, dan digulung dengan proses tunggal oleh penggulung logam. Ekstrak air sarinya ditampung dan ditambahkan kembali ke daun.
daun yang telah hancur kemudian dioksidasi, dikeringkan dan disortir. Metode CTC terutama digunakan di wilayah India.



Orthodox
Sedangkan untuk teknologi Orthodox adalah menggunakan tabung silinder yang cukup besar dalam proses penghancuran, penyobekan, dan penggulungan. Teknologi seperti ini adalah yang palinga banyak di pakai dalam proses pembuatan teh.

Disamping adalah contoh dari mesin Orthodox yang di gunakan dalam proses pembuatan teh.



Teknologi Orthodox dan CTC (Crush, Tear & Curl), mempunyai sedikit perbedaan antara lain:
o   Kalau sistem orthodox digunakan silinder untuk menggulung dan memecah daun teh.
o   Sistem CTC menggunakan pisau untuk mencacah, dan merobek daun teh.
o   Selain itu untuk system CTC (Crush, Tear & Curl) memiliki keunggulan lain yakni aroma teh jauh lebih kuat dibandingkan dengan system Orthodox.


Teh merupakan produk alami  yang langsung dikonsumsi oleh manusia. Dalam proses produksinya, teh banyak menggunakan senyawa kimia untuk memicu pertumbuhan serta mengendalikan hama penyakit dan gulma. Praktek pertanian seperti ini dapat menimbulkan pengaruh negative bagi lingkungan maupun kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.
Dewasa ini tumbuh kesadaran secara global bahwa praktek pertanian yang menggunakan pestisida dan pupukn kimia yang berlebihan, dalam jangka panjang akan menimbulkan pencemarnan lingkungan. Keracunan dan penurunan kualitas bahan makanan serta masalah kesehatan manusia. Oleh karena itu, tidaklah heran kalau akhir-akhir ini masyarakat maju cenderung mengkonsumsi makanan dan minuman yang bebas dari pencemaran bahan-bahan kimia sintesis, terutama logam berat. Di
samping beracun, bahan tersebut dapat menimbulkan beberapa penyakit yang ditakuti manusia, antara lain kanker dan gangguan syaraf. Budi daya teh organik menjadi salah satu alternatif dalam menghasilkan teh bebas bahan pencemar. Oleh karenanya sekarang banyak bermunculan perusahaan-perusahaan teh yang mulai menggunakan budi daya the organik. Salah satu perusahaan yang menggunakan budi daya teh organik.

Produksi Teh
Produksi teh meliputi beberapa tahap :
  • Pelayuan
  • Penggilingan
  • Oksidasi (‘fermentasi')
  • Pengeringan
  • Pengemasan
Meskipun prosesnya relatif mudah, diperlukan pengontrolan yang seksama pada setiap tahap untuk memperoleh hasil dengan aroma dan rasa yang tepat.
v  Pelayuan
Tujuan pelayuan adalah untuk mengurangi kadar air daun teh hingga 70% (persentase ini bervariasi dari satu wilayah dengan yang lain).
Daun teh ditempatkan di atas loyang logam (wire mesh ) dalam ruangan (semacam oven). Kemudian udara dialirkan untuk mengeringkannya secara keseluruhan.
Proses ini memakan waktu 12 hingga 17 jam. Pada akhir pemrosesan daun teh menjadi layu dan lunak sehingga mudah untuk dipilin.
 
Pelayuan. Sumber gambar :


v  Penggilingan
Daun teh ditempatkan pada mesin penggiling, yang berputar secara horisontal terhadap meja penggilingan. Proses ini membentuk daun teh menyerupai pilinan kawat. Selama proses penggilingan daun teh juga menjadi pecah/rusak, yang mengawali proses ketiga.
Sebagai pengganti penggilingan yang lembut dan lebih tradisional, ada dua metode lain yang digunakan, terutama dalam produksi teh hitam agar menjadi lebih halus, seperti kategori daun hancur (fanning ) dan partikel kecil (dusting ). Kategori ini biasanya diperuntukkan untuk produksi teh celup.
Metode Produksi CTC :
Metode LTP :
Metode ketiga dalam produksi teh hitam adalah metode LTP, diberi nama sesuai dengan penemu mesin, Lawrie Tea Processor . Pada metode ini, daun yang telah dilayukan seringkali digolongkan berdasarkan mutunya sebelum diproses di mesin LTP. Di sinilah proses perobekan daun yang sebenarnya dilakukan dengan menggunakan mata pisau yang berputar dengan kecepatan tinggi. Selanjutnya diikuti dengan proses oksidasi biasa, pengeringan dan proses penyortiran.
Oksidasi (fermentasi)
Ketika proses penggilingan telah sempurna, daun teh ditempatkan dalam bak-bak atau diletakkan diatas meja, sehingga enzim-enzim yang ada di dalam daun teh bersentuhan dengan udara dan mulai teroksidasi. Hal inilah yang menghasilkan bau, warna, dan mutu dari teh.
Pada proses ini daun teh berubah warna dari hijau, menjadi coklat muda, lalu coklat tua, dan perubahan warna daun ini terjadi pada temperatur 26 derajat.
Tahap ini merupakan tahap kritis dalam menentukan rasa teh, jika oksidasi dibiarkan terlalu lama, rasa akan berubah menjadi seperti busuk.
Proses oksidasi memakan waktu kurang lebih satu setengah sampai 2 jam.

Proses ini dimonitor secara konstan dengan menggunakan termometer berdasarkan pengalaman bertahun-tahun.
Daun teh kemudian memasuki tahap akhir pengeringan.
Semakin lama teroksidasi, teh menjadi berwarna semakin gelap. Teh hijau tidak mengalami oksidasi atau dalam periode oksidasi yang singkat. Teh Oolong teroksidasi sebagian, dan teh hitam mengalami oksidasi secara penuh.
Seringkali tahap ini disamakan dengan fermentasi. Tetapi, fermentasi menggunakan mikroorganisme (bakteri, jamur, ragi, seperti pada roti, bir), yang pada fermentasi teh tidak dilakukan. Fermentasi teh merupakan proses oksidasi kimia.
v  Pengeringan
Untuk menghentikan proses oksidasi, daun teh dilewatkan melalui pengering udara panas. Proses ini mengurangi total kadar air hingga kira-kira 3% dan menghentikan enzim. Oksidasi dihentikan pada proses ini, dan sekarang daun teh yang sudah kering siap untuk disortir berdasarkan penggolongan kelasnya sebelum pengemasan.
v  Pengemasan
Daun teh pada umumnya dikemas dalam kotak kayu yang besar dan siap untuk diekspor. Untuk selanjutnya dapat dikemas dalam kemasan lebih kecil, teh celup, dan lain-lain.

Hasil produksi teh sebagaian besar di ekspor, terutama yang kualitas nomor 1. Sedangkan yang Grade ke dua kebanyakan dibeli oleh trader teh lokal. Di Counter pintu masuk pabrik juga disediakan beberapa contoh teh yang merupakan hasil blend atau remarking dari teh PTP VIII. Untuk teh import terlihat ada merk Twinning, Pickwick. Sedangkan jajaran teh lokal tampak merk Goalpara, Teh Keris dan teh yang sangat familiar apalagi kalau bukan Sari Wangi.
Ya ternyata, Sari Wangi juga menggunakan teh dari Gunung Mas. Hanya grade yang digunakan adalah grade kedua. Itu sebabnya aroma Sari Wangi memang ada kemiripan, walau dari segi kualitas memang sungguh beda. 

Untuk harga, teh berkualitas nomor satu Walini terasa sangat murah. Banyangkan untuk BP1 Cuma dibandrol 6000 per 200 gram. Bandingkan dengan teh Twinning yang kita import lagi ke sini, harganya hampir mencapai 100 ribu per 100 gram, berarti 200 ribu per 200 gram. 30 kali lipat lebih harganya untuk kualitas yang sama Justru yang lebih mahal adalah ongkosnya, karena untuk membeli teh Walini kita harus pergi ke perkebunannya. Jadi kalau memang anda sengaja khusus datang untuk membeli teh Walini, jadinya ya cukup mahal, tergantung dimana anda tinggal. 
Meskipun tiap-tiap jenis teh memiliki rasa, aroma, dan wujud yang berbeda-beda, pengolahan teh untuk semua jenis teh memiliki sekumpulan metode yang serupa dengan sedikit variasi:
1.      Pemetikan: Daun teh, yakni satu kuntum dan dua pucuk, dipetik dari semak Camellia sinensis dua kali setahun pada permulaan musim semi dan musim panas atau penghujung musim semi. Pemetikan pada musim gugur atau musim dingin jarang dilakukan, meskipun bisa saja ketika musim memungkinkan. Pemetikan dilakukan dengan tangan ketika kualitas teh menjadi prioritas, atau ketika biaya tenaga pekerja bukan persoalan. Pemetikan dengan tangan dilakukan dengan cara menggenggam sejajar dengan hentakan pergelangan tangan dan tanpa pemilinan atau penjepitan, karena jika yang terakhir dilakukan akan menurunkan mutu daun. Pemetikan juga dapat dilakukan dengan mesin, meski akan lebih banyak daun yang rusak dan sebagian terbuang. Adalah juga sulit panen teh dengan mesin di lereng gunung di mana teh sering ditanam.
2.     Pelayuan: Dilakukan untuk menghilangkan terbuangnya air dari daun dan memungkinkan oksidasi sesedikit mungkin. Daun teh dapat dijemur atau ditiriskan di ruangan berangin lembut untuk mengurangi kelembaban. Daun kadang-kadang kehilangan lebih dari seperempat massanya akibat pelayuan.
3.     Pememaran: Untuk mengajukan dan mempercepat oksidasi, daun boleh dimemarkan dengan memberinya sedikit tumbukan pada keranjang atau dengan digelindingkan dengan roda berat. Ini juga menghasilkan sedikit jus, yang membantu oksidasi da memperbaiki citarasa teh.
4.    Oksidasi: Untuk teh yang memerlukan oksidasi, daun dibiarkan semula di ruangan tertutup di mana segera mereka menjadi lebih gelap. DI dalam tahap ini klorofil pada daun dipecah secara enzimatik, dan tanninnya dikeluarkan dan dialihbentukkan. Di industri teh, proses ini disebut fermentasi, meski sebenarnya tidak terjadi fermentasi karena proses oksidatif ini tidak membangkitkan energi (langkah ini tidak juga dipicu oleh mikroorganisme; di dalam langkah pengolahan teh lainnya--misalnya penyimpanan--mikroorganisme dapat digunakan untuk fermentasi). Penghasil teh dapat memilih ketika oksidasi harus dihentikan. Untuk teh oolong oksidasi harus terjadi 5-40%, pada teh oolong yang lebih cerah 60-70%, dan pada teh hitam 100%.
5.     Penghilangan-warna-hijau: Istilah lainnya shāqīng (殺青) dilakukan untuk menghentikan oksidasi daun teh pada jenjang yang diharapkan. Tahapan ini dipunahkan dengan pemanasan sedang, enzim oksidatif dihambat, tanpa merusak rasa teh. Tradisionalnya, daun teh digongseng atau dikukus, tetapi seiring majunya teknologi, tahapan ini dilakukan dengan pemanggangan di dalam drum yang diputar. Untuk teh hitam, tahap ini dilakukan bersama pengeringan.
6.    Penguningan: Khusus untuk teh kuning, dilanjutkan dengan pemanasan ringan di dalam kontainer mini, warna teh berubah menguning.
7.     Pembentukan:Tahap berikutnya adalah penggulungan untuk mendapatkan bentuk lajur yang ergonomik. Biasanya dilakukan dengan menempatkannya di dalam tas pakaian yang besar, yang kemudian ditekan-tekan oleh tangan atau mesin untuk membentuk lajur. Tindakan penggulungan ini juga menyebabkan beberapa pati dan jus dari dalam daun keluar, ini akan memperkaya rasa teh. Lajur teh dapat dibentuk menjadi bentuk lain, misalnya membentuk pola keriting, membentuk pelet, atau digulung serupa bola dan bentuk lain yang diharapkan.
8.    Pengeringan: Pengeringan dilakukan sebagai "tahap akhir" menjelang penjualan. Ini dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan menggongseng, menjemur, menghembuskan udara panas, atau memanggangnya. Namun, pemanggangan adalah yang paling lazim. Pemeliharaan yang saksama mestilah dilakukan supaya pucuk daun teh tidak terlampau kering, atau bahkan hangus.
9.    Pemeliharaan: Meski tidak selalu dilakukan, beberapa teh memerlukan penyimpanan ekstra, fermentasi tahap kedua, atau pemanggangan untuk mencapai potensial minumannya. Juga, teh yang diberi perisa dipabrikasi dengan menyemprotkan aroma dan rasa atau dengan menyimpannya di lingkungan perisa.

Tanpa pengawasan suhu dan kelembaban yang saksama selama pengolahan dan pabrikasi, jamur mungkin saja tumbuh di atas teh. Jamur jenis ini menyebabkan fermentasi yang nyata yang akan mencemari teh dengan zat racun dan kadang-kadang senyawa pemicu kanker dan merusak rasa, yang pada akhirnya teh tidak lagi layak untuk dikonsumsi.



Kesimpulan
·        Ternyata Teh mempunyai banyak khasiat dan manfaat bagi tubuh manusia mulai dari menurunkan stress sampai mencegah terbentuknya penyakit kanker dan stroke.
·        Dari jenisnya Teh juga mempunyai beraneka ragam warna dan mempunyai cirri khas tersendiri.
·        Dari keseluruhan prosesi pembuatan teh, ternyata semuanya tidak pernah lepas dari yang namanya campur tangan dari sebuah Teknologi. Baik itu yang Tradisional ataupun yang Modern.
·        Teh yang diproses dengan menggunakan bahan-bahan organik akan menghasilkan teh yang berkualitas tinggi.
·        Seiring dengan berkembangnya jaman, teknologi yang awanya menggunakan teknologi mausia sekarang sudah mulai tergantikan dengan adanya mesin-mesin industri yang lebih mudah dan efisien. 
·        Penggunaan system CTC dan Orthodox sangat membantu dalam proses pembuatan Teh yang berkualitas tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar